Menjadi buta bukanlah akhir dari segalanya, begitu ungkap basuki sahabat saya. Menjadi buta termasuk salah satu bentuk kemurahan Allah SWT kepada hambanya dalam meniti jalan lurus. Orang tunanetra juga tidak bisa melepaskan diri dari kewajibannya dalam mengabdi kepada-NYA dengan benar. Maka sebagai bagian darinya, aku tidak pernah akan bisa lepas dari itu semua, dan inilah salah satu bentuk pengabdianku padaNYA, tentu saja ini jangan dinilai berlebihan. Ini hanya caraku saja, him.

Aku hanya terbengong, ah, kau yang hanya melihat kegelapan bisa mengatakan ini, bas. Aku yang selalu bisa membedakan perempuan cantik dan tidak, masih saja tidak pernah tahu bagaimana harus memulai hidupku dengan benar. Maka dengan agak setengah yakin, aku mulai menggarap mereka. Ya, seperti postinganku yang lalu, aku telah ditampar kegelapan. Kegelapan yang bisa membuatku untuk lebih jernih melihat jalan yang harus dilalui dengan ikhlas. Jalan yang penuh tamparan dan siksaan yang kadang kita menganggapnya sebagai sebuah persoalan besar dan pembenaran untuk kita sebagai keluhan.

Nyaris 3 bulan lebih kami berproses, sungguh bukan sesuatu hal yang mudah menggarap mereka yang 100% buta. Kami pun sungguh harus melepas idealisme masing-masing dan meletakkan harapan untuk sebuah pementasan yang luar biasa secara visual. Dan belum lagi seluruh kerja tersebut sama sekali tidak didukung oleh siapapun. Basuki berjuang sendirian untuk melobi donatur pementasan kali ini. Saya pun sibuk mengemis kepada teman-teman untuk membantu terealisasinya percalanan cahaya. Dan para pemain yang rata-rata berumur tak lebih dari 25 tahun dan buta semua itu, menjadi sangat sempurna bersinggungan dengan kebingungan.


Aku sendiri memang melepas diri untuk tidak menggarap 100% pementasan kali ini, bukan apa-apa, karena harus kuakui aku tidak mempunyai cukup kesabaran jika melihat gesture mereka yang kaku, moving yang wagu tur njelehi, dialog yang baku dan tak tertata rapi. Wis pokoknya ra apik blas, menurut ukuran idealisku.

Bas, aku tetep akan mendukung. Aku tapi tidak akan langsung berhadapan dengan mereka.

Lha piye him?

Yo, aku hanya akan memberi sedikit kurasi, aku lebih bisa marah sama kamu bas.

Wakakakakakak, basuki tertawa renyah. Sebab ia tahu benar jika aku marah saat dalam proses penggarapan, aku bisa melepas sandal atau sepatu dan langsung melemparkan ke muka mereka, atau mengusir pemain yang goblok, karena selalu menggerakkan tangan seperti itu-itu saja. Atau memaki-maki pemain dengan penghuni kebun binatang. Pantesan di semarang ini, banyak yang tak mau kusutradarai, galak!