AKHIRNYA JADI JUGA
Ya, apapun jalinan persahabatanku dengan basuki memang tidak berjalan hanya sehari dua saja, sejak ia masih bisa melihat, sampai ia mengalami kebutaan total itu, membuat kami intim dalam banyak hal. Saling memaklumi dan mengerti sangat, seperti dua pasangan pengantin yang setiap saat bulan madu. Kami hanya bersaing dalam satu hal, sama-sama tidak mau kalah dalam hal membuat anak, dan skor kami imbang sekarang. Aku beranak empat, dia ikut-ikutan juga. Kadang-kadang dalam keisengan, aku pernah tanyakan bagaimana cara dia bercinta? Apa nggak terlalu lama tuh bas? Kan kamu selalu mencari dalam kegelapan?
Wakakakakakakaka, wis apal him. Iki wae wis meh tambah meneh. Katanya bangga.
Apa? Wah aku harus buru-buru mengejarnya nih. Dan memang guyonan-guyonan itulah yang membuat kami sebagai laki-laki untuk tetap tabah dalam hal apapun, untuk hal ini, sungguh aku banyak belajar darinya.
Sungguh, kemudian aku melepaskan diri untuk membuat diriku serba tahu tentang teater dan artistik lainnya. Di hadapan teman-teman itu, aku malah menjadi kebodohan yang teramat tolol, bagaimana mereka mencintai seni yang diyakininya itu dengan ikhlas dan kesabaran yang tak terukur. Tidak seperti yang pernah aku alami dengan beberapa orang yang dengan seenak udelnya meninggalkan teman-temannya saat latihan, mencintai seni karena teman, pacar atau apapun. Lebih lagi jika melihat orang yang benar-benar sok tahu dan merasa sudah besar sendiri, merasa peduli sudah dipeluk oleh kesenian, padahal ia hanya baru sebulan saja terjun dalam dunia kesenian. Njaluk bayaran sisan! Asu!
Maka dalam proses ini, meski aku tidak datang setiap hari, kusempatkan diriku untuk selalu menemani basuki. Berdiskusi banyak hal, meski lebih banyak mentok dengan keserba kekurangan kami. Apalagi dengan pentas di auditorium RRI yang notabene berbiaya sangat mahal, bayangkan hanya sewa 2 jam kita harus mengeluarkan kocek nyaris 4 juta. Untung di semarang masih ada orang yang baik hati untuk meringankan beban biaya operasional pementasan amal ini.
Ya, berkali-kali setiap kali latihan aku tak malu untuk mengeluarkan airmata, sebab mereka juga tak bisa melihat kan? Heheheheheheh…hanya basuki sangat tahu benar, dengan perubahan suaraku, dan setiap kali seperti itu dia pasti ngejek….sentimentil lu! Ah, bas, bagaimana aku tidak sentimentil. Di tengah kekurangan itu, masih juga kalian memikirkan yang lainnya. Ya, pentas itu memang pentas amal, tiket yang terjual nantinya akan disumbangkan untuk anak sd, smp, sma di semarang yang tidak mampu untuk membeli kacamata.
Prosesnya sebelum pementasan, akan ada pemeriksaan mata oleh dokter-dokter berpengalaman dari RS Kariadi, kemudian langsung direkomendasikan kepada optik yang langsung membuat kacamata itu di tempat pementasan detik itu juga.
Yah, untuk menghindari kecurigaan, begitu kata basuki.
Betul bas.
Kami ini sudah buta, him. Kami nggak ingin teman-teman yang lain nanti suudzon atas kerja kami, jadi ya, langsung aja direalisasikan. Gitu loh.
Baik bas, apapun itu aku manut kamu aja deh. Aku tidak punya kapasitas untuk menasehati kamu. Aku pikir dengan pengalamanmu aku tidak layak menjadi gurumu. Kau lebih pantas, maka biarlah aku menjadi sedikit mencuri ilmumu untuk mengarungi hidup yang suram ini bas. Thanks! Dan para pemain mendengar dengan seksama ketika memulai latihan.
Bu, apakah ketika di surga nanti, kita juga tunanetra seperti sekarang?
Bukankah di setiap mimpi-mimpi dalam tidurmu, kau selalu melihat wajah ibu?
Aku hanya mengusap airmata. Basuki berbisik padaku, sentimentil lu!
[buat mereka yang akan menjadi sutradara, aktor dan seluruh crew panggung, dimana saja kalian berada]
Gendong, 3 september 2008


