Iqra’, bismirobbikalladzii kholaq

Khollaqol insaana min alaq

Alunan qiro’ah lembut menyapa dari panggung bercahaya muram. Sejurus kemudian, cahaya yang semakin terang memperlihatkan enam anak adam yang sedang mendiskusikan ayat-ayat Al Quran.

“Bukankah pada saat itu, gua Hira’ gelap gulita bu, lalu Rasulullah membaca apa?,” ujar Rizky, salah satu yang berperan sebagai siswa. Dan seorang wanita berbalut busana muslim kuning emas menjawab dengan sabar bahwa Jibril tidak menyuruh Muhammad membaca tulisan, namun lingkungan. “Lingkungan Makkah pada masa jahillliyah,” ujar Ibu Guru bernama Rustini itu.

Demikianlah, adegan demi adegan pentas teater “Perjalanan Cahaya“ mengalir didepan ratusan penonton yang memadati Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI), Minggu (7/9). Sebuah pertunjukan yang apik nan memikat dengan jalan cerita yang membuat trenyuh.

Semua pun hanyut, terlena oleh acting para aktor dan aktris. Semua pun terlupa, kalau tokoh-tokoh di atas panggung bukanlah pemain teater biasa. Ya, ketika pertunjukan usai dan tepuk tangan membahana, penonton pun tersadar kembali bahwa mereka adalah pemain-pemain teater luar biasa, siswa siswi tuna netra Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB) Budi Asih.