Rabu, 9 Juli 2010.

Pagi yang cerah. Di awalli dengan doa agar ‘sensitif’ yang menggelayuti hari-hari kemarin  semoga berlalu. Maafkan aku tak tahu harus menyebutnya apa. Aku tak ingin ada Sahabat yang terluka akibat kebodohanku. Maafkan aku Mbak Nida, Sahabat dari Lumpia, yang sempat mendengar ketusnya suaraku via handphone di tengah deru lalu lalang kendaraan di atas jembatan Banjir Kanal Barat. Juga Mas Sasongko, pembuat tahu bakso kesukaan keluargaku, yang sempat pula menerima sengatan lisanku yang tak mengenakkan. Semoga Allah SWT mengampuni kecerobohanku.

Tidak seperti hari-hari biasanya. Hari ini saya minta Mas Pri untuk lebih awal datang ke rumah. Pagi ini jadwalku ke Yogyakarta. Masih pagi memang ketika mas Pri nongol di rumah sambil menenteng tas kresek yang berisi buku Al-hidayah jilid 1.

Setelah masuk dan kemudian duduk, Mas Pri mulai membaca buku dalam format huruf Braille tersebut. Aku mendengarkan apa yang Mas Pri baca dengan seksama. Setelah selesai, aku mulai menjelaskan apa yang baru saja Mas Pri baca, baik hadits maupun ayat-ayat Al-qur’an yang ada.

7.15 Mas Nugroho datang. Kukatakan pada Mas Pri, “ Ngajinya sudah dulu ya, aku mau berangkat ke Yogya. Insya Allah jika bisa selesai hari ini langsung pulang, jika tidak berarti ya nginap. “

7.30 kami berangkat naik motor ke kaliwiru. Sampai di SMK Palapa handphoneku berdering.

“ Pak ini dari SMP Muhammadiya 4, readernya Satrio belum ada.

“Iya Bu, akan saya urus, terima kasih atas pemberitahuannya. “

Kudengarkan jam di handphone, 7.45. Langsung kukontak nomor Mbak Latus, karena hari ini adalah jadwal Mbak Latus untuk mnejadi reader di SMP Muhammadiyah 4. Tidak aktif. Masih di atas motor yang terus melaju ku SMS beberapa teman, hasilnya negative.

8.10 kami sampai di agen bis kaliwiru. Adi sudah menunggu di sana. Mas Nugroho langsung kuminta untuk ke SMP Muhammadiyah 4 untuk membacakan soal-soal ujian kenaikan kelasnya Satrio, siswa kelas 8 yang merupakan siswa satu-satunya yang tunanetra di sekolah tersebut. Alhamdulillah menjelang dhuhur ada SMS masuk dari Mbak Latus yang mengabarkan keterlambatannya datang di SMP Muhammadiyah 4.

Selepas dhuhur kami sampai di Yaketunis di belakang Masjid Danunegaran, tempat tinggal Mas Hari Pramono ketua DPD ITMI Kota Yogyakarta. Kami memang merencanakan kerjasama untuk pelaksanaan Seminar dan Diklat Al-qur’an Braille VI. Ada tiga agenda yang harus kami selesaikan hari ini. Pertama mematangkan kerjasama, kedua memastikan tempat penyelenggaraan dan yang ketiga mengawali langkah publikasi.

Alhamdulillah, kerjasama yang kami bangun semakin kokoh. Semoga Allah terus menguatkan kami untuk membangun silaturahim ini.

Kemudian aku mengajak Mas Hari untuk mampir sebentar ke rumah Ibu Mertuaku. Ada amanah yang harus aku tunaikan. Dari Yaketunis kami jalan kaki kurang lebih 1 km kea arah pasar Gading karena rumah Ibu Mertuaku di belakang Polsek Gading. Subhanallah ! (Semoga aku bisa menuliskan peristiwa ini di lain kesempatan). Mas Hari yang tunanetra total ini begitu enaknya memasuki gang-gang sempit yang berliku-liku itu.

Setelah aku tunaikan amanah itu, kami langsung ke tempat Seminar dan Diklat Al-qur’an Braille VI akan dilaksanakan. Alhamdulillah di tempat ini pun kami dimudahkan Allah untuk merampungkannya.

Kemudian kami jalan kaki dari Wisma Melati di Pakelan Baru tempat Seminar dan Diklat Al-qur’an Braille VI tanggal 7-8 Juli 2010 akan diselenggarakan ke arah Umbulharjo. Kami akan naik Trans Yogya untuk mencapai Kridosono. Studio radio Female FM tujuan kami.

Alhamdulillah, kami disambut Mbak Dian dari radio Female. Masih seperti yang kukenal di Semarang dulu. Ramah dan penuh simpati, he 7x. Hasilnya, 6 Juli 2010 pukul 17.00 kami diberi kesempatan untuk interaktif selama 60 menit secara life dan pendaftaran seminar bisa di Studio Radio Female FM. Subhanallah.

17.28 Trans Yogya yang kami naiki sampai di terminal Jombor. Alhamdulillah bis terakhir ke Semarang masih parkir di tempatnya. Kami langsung naik dan, pulang ke Semarang.

Salam untuk Mbak Nida dan Mas Sasongko, sekali lagi maafkan kebodohan saya, semoga Allah meng-ahli-kan kita dalam mengendalikan diri (Sahabat mata 01)